Berita Wisata Indonesia Luhut Binsar Pandjaitan selaku Menko Kemaritiman dan Investasi tekah mengumumkan Tiket Naik Candi Borobudur menjadi Rp 750.000, kenapa naik drastis seperti itu, begini alasanya.

Tarif baru untuk bisa naik ke area stupa Candi Borobudur itu menuai pro dan kontra, bukan hanya untuk kalangan traveler saja, akan tetapi para pedagang, untuk para wisatawan harga tersebut dinilai cukup mahal, para pedagang juga khawatirdengan tarif tersebut jumlah wisatawan ke monumen terbesar umat Buddha itu turun drastis dan imbasnya mereka kehilangan pemasukan.

Wikipedia

Harga tiket masuk Candi Borobudur memang tidak berubah, yaitu Rp 50.000, jika traveler ingin menjelajahi museum sejarah kemaritiman Museum Samudra Raksa, yang berlokasi di kompleks Taman Wisata Candi Borobudur, tersedia tiket bundling atau tiket paket senilaiu Rp 65.000 adapun tiket masuk untuk anak-anak Rp 25.000 sementara itu untuk wisman harga tiket masuk Candi Borobudur RP 350.000.

Luhut Binsar Pandjaitan dan Gubernur Jawa Tengah (Jateng) Ganjar Pranowoi menegaskan tarif Rp 750.000 itu untuk dikenakan bagi mereka yang ingin naik ke area stupa. Kenaikan harga tiket masuk juga berlaku untuk turis asing, yakni USD 100 atau sekitar Rp 1.4 juta, untuk pelajar tiketnya dipangkas menjadi Rp 5.000.

“Langkah ini kami lakukan semata-mata demi menjaga kelestarian kekayaan sejarah dan budaya nusantara,” kata Luhut dalam unggahannya di Instagram @luhut.pandjaitan pada Minggu (5/6/2022).

“Semua turis juga nantinya harus menggunakan tour guide dari warga lokal sekitar kawasan Borobudur. Ini kami lakukan demi menyerap lapangan kerja baru sekaligus menumbuhkan sense of belonging terhadap kawasan ini sehingga rasa tanggung jawab untuk merawat dan melestarikan salah satu situs sejarah nusantara ini bisa terus tumbuh dalam sanubari generasi muda di masa mendatang,” Luhut menambahkan.

Selama ini, Kelestarian Candi Borobudur memang disorot, dengan jumlah wisatawan yang terlalu banyak setiap harinya dikhawatirkan bikin Candi Borobudur rusak.

Pada tahun 2019 tercatat lebih dari 3, 3 juta orang yang berkunjung ke Candi Borobudur ataupun setara dengan 8. 000 orang per hari. Sementara itu, bersumber pada hasil riset Balai Konservasi Borobudur, idealnya optimal wisatawan Candi Borobudur sebanyak 128 orang per hari.

Pemerintah serta pengelola telah lumayan lama resah dengan suasana itu. Balai Konservasi Borobudur pernah melaksanakan penutupan pada zona lantai 9 serta 10 di Candi Borobudur. 2 lantai paling atas itu disebut- sebut jadi sangat utama kawasan candi tersebut ataupun diketahui selaku zona Aruphadatu. Penutupan dicoba buat melaksanakan monitoring serta penilaian pada konstruksi Candi Borobudur.

“Oleh karenanya, akan diimplementasikan wisata berkualitas di Borobudur, dengan menjadikan Rencana Induk 1979 sebagai acuan bagi Rencana Induk Pariwisata yang terbaru,” kata Luhut.

suarasurabaya.net

Bersumber pada pengamatan Balai Konservasi Borobudur, di lantai 9 serta 10 Candi Borobudur sudah hadapi kehancuran nyaris 30%. Sedangkan itu, di tangga- tangga mengarah lantai yang ditutup itu terdapat kehancuran nyaris 40%.

Kehancuran juga beragam, terdapat batuan candi yang tergores dekat satu mili, 2 centimeter, apalagi terdapat yang 4 centimeter. Di sebagian tempat juga diucap nampak terdapat batu- batu pembuat candi yang telah agak miring.

Bagi Luhut, selaku web sejarah, Candi Borobudur mempunyai bermacam kerentanan serta pula ancaman. Bersumber pada kajian dari bermacam pakar yang membagikan masukan kepada pemerintah, keadaan web memiliki itu dikala ini mulai hadapi pelapukan. Tidak hanya itu, pergantian hawa sampai kemampuan erupsi gunung berapi, gempa bumi, pula jadi tantangan tertentu.

Tantangan- tantangan itu masih ditambah dengan ulah wisatawan yang mengganggu Candi Borobudur. Luhut bilang banyak laporan kelakuan wisatawan yang melaksanakan vandalisme hingga membuang sampah sembarangan.

Hingga normal saja apabila pemerintah berencana melaksanakan pembatasan ketat buat wisatawan Candi Borobudur, salah satunya dengan memahalkan bayaran buat naik ke zona Candi.

“Silahkan cek atau tanya ke teman-teman pengelola di sana. Belum lagi perilaku pengunjung yang suka melakukan vandalisme, menyelipkan benda tertentu di sela-sela batu candi, membuang sampah sembarangan, dan yang lebih parah adalah tidak bisa menghargai Candi Borobudur sebagai situs umat Buddha. Ini semua kan perlu penanganan khusus,” kata Luhut.